News

Program KB Menurunkan Kematian Ibu

Posted date : 8 March 2012

JAWA BARAT tak hanya dikenal sebagai provinsi dengan jumlah penduduk paling gemuk di Indonesia. Fakta mencengangkan terungkap saat berlangsungnya rapat kerja nasional (Rakernas) program kependudukan dan keluarga berencana (KKB) di Jakarta pertengahan Februari 2012 kemarin: Jabar tercatat sebagai provinsi dengan angka kematian ibu tertinggi di tanah air.

Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) mengungkap, sepanjang 2010 jumlah ibu yang meninggal dunia saat melahirkan tercatat mencapai lebih dari 11 ribu orang. Dari seluruh provinsi, Jabar merupakan daerah dengan angka kematian ibu terbanyak, diikuti Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Banten, dan Jawa Timur.

Menengok data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, pada 2010 kematian ibu melahirkan berjumlah 794 kasus. Sementara jumlah kelahiran hidup berjumlah 685.247 orang. Angka kematian ibu (AKI) tersebut menurun dibanding 2009 sebanyak 814 kasus, namun naik dibanding tiga tahun sebelumnya. Pada 2006 lalu, jumlah kematian ibu melahirkan masih di bawah 700 kasus.

Untuk 2010, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bogor menjadi penyumbang terbesar kematian ibu, masing-masing 76 dan 74 kasus. Adapun Kota Cirebon dan Kota Bandung tercatat sebagai daerah dengan AKI terendah, masing-masing tiga dan dua kasus. Proporsi ini tampaknya berbanding lurus dengan jumlah penduduk di masing-masing daerah tersebut. Mengcu kepada hasil Sensus Penduduk (SP), penduduk Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bogor masing-masing berjumlah 2,16 juta jiwa dan 4,76 juta jiwa. Sementara itu, Kota Cirebon dan Kota Banjar dihuni masing-masing 295.764  jiwa dan 175.165 jiwa.

Dilihat penyebabnya, sebagian besar kematian ibu di Jawa Barat terjadi akibat pendarahan (35 persen). Kemudian sekitar 23 persen akibat hipertensi dalam kehamilan, partus lama dan abortus masing-masing 1 persen, infeksi sekitar 5 persen, dan 35 persen lainnya akibat kasus beragam. Kantung-kantung kasus pendarahan terdapat di Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasik, Indramayu, Karawang, Kota Bandung. Sementara kasus hiperensi dalam kehamilan terdapat di Bogor, Cianjur, Bandung, Tasik, Cirebon, Indramayu, Karawang. Adapun kasus lainnya terdapat di Bogor, Cianjur, Bandung, Ciamis, Cirebon, Purwakarta, Indramayu, Karawang, Bandung Barat, Kota Bandung, Kota Cirebon, Kota Tasikmalaya.

Berbicara saat pencanangan Bakti Ikatan Bidan Indonesia (IBI) 2012 di Bandung pada 1 Maret 2012 lalu, Ketua Pengurus Daerah (PD) Jawa Barat Tuti Nurhayati mengungkap ada sejumlah penyebab lain yang menyumbang angka kematian ibu di Jawa Barat. “Ada tiga keterlambatan yang turut memicu kematian ibu. Pertama, terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan. Kedua, terlambat mencapai fasilitas kesehatan. Ketiga, terlambat mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan,” ungkap Tuti.

Di sisi lain, ada “Empat Terlalu” yang juga memicu kematian. Pertama, terlalu muda punya anak, terutama memiliki anak pertama sebelum usia 20 tahun. Kedua, terlalu banyak melahirkan. Ketiga, terlalu rapat jarak melahirkan. Keempat, terlalu tua untuk mempunyai anak. Empat hal yang dianggap terlalu tersebut, imbuh Tuti, erat kaitannya dengan program KB.

“Program KB berkaitan erat dengan upaya menekan angka kematian ibu di Jawa Barat. Ini tidak lepas dari kiprah KB dalam upaya pendewasaan usia perkawinan, penjarangan kelahiran, dan pembatasan kelahiran. Empat hal yang dianggap terlalu tadi bisa diselesaikan dengan program KB,” tegas Tuti.

Karena itu, secara kelembagaan PD IBI Jabar menganjurkan setiap ibu melahirkan untuk menjadi peserta KB, terutama metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). Pilihan pada MKJP tidak lepas dari kemungkinan resistennya tubuh terhadap hormon dalam alat kontrasepsi. Tuti mengingatkan, kontrasepsi hormonal sangat merugikan kesehatan perempuan karena peserta KB yang bersangkutan mendapat asupan hormon secara terus-menerus. Di sisi lain, ketidakdisiplinan dalam menjalani program, baik suntik maupun pil, berpotensi memicu kehamilan. Dengan begitu, program KB menjadi tidak efektif.

“IBI mendorong para bidan anggota kami agar menganjurkan ibu melahirkan menggunakan kontrasepsi nonhormonal, terutama MKJP. Namun demikian, bidan tidak bisa memaksa karena pada dasarnya pilihan itu ada pada setiap perempuan. Mereka yang sesungguhnya memilih akan menggunakan kontrasepsi jangka pendek atau jangka panjang, hormonal atau nonhormonal,” tegas Tuti.

Komitmen IBI sebagai asosiasi profesi, imbuh Tuti, adalah mengingatkan para ibu secara berkesinambungan. Hal ini dianggapnya penting karena setiap peserta KB bisa berubah pikiran seiring perjalanan waktu. “Kami juga akan terus bekerja sama dengan petugas lapangan KB maupun tenaga penggerak desa untuk meningkatkan kesertaan ber-KB,” kata Tuti.

 

***

 

Program KB tak lagi berkutat pada persoalan pemakaian alat kontrasepsi. Lebih dari itu, paradigma KB kini mengalami perluasan makna ke arah peningkatan kualitas keluarga maupun penekanan angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian bayi. Inilah benang merah sekaligus penegasan komitmen Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Barat untuk ambil bagian dalam upaya menekan angka kematian ibu.

Berbicara di hadapan anggota IBI di Bandung beberapa waktu lalu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat Siti Fathonah mengingatkan masih tingginya AKI di Indonesia. Setiap tahun diperkirakan terdapat 5 juta ibu hamil di Indonesia. Dari jumlah tersebut, terdapat 15 ribu-17 ribu yang meninggal akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas. Artinya, setiap ibu meninggal dalam dua jam. Jumlah ini termasuk tinggi dibanding target MDGs yang menetapkan angka kematian ibu (AKI) 102/100 ribu kelahiran hidup. Sementara hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menunjukkan AKI di Indonesia masih berkisar pada angka 228/100 ribu kelahiran hidup. 

“BKKBN berkomitmen untuk berupaya keras menekan AKI di Jawa Barat. Komitmen ini sejalan dengan nota kesepamahan antara BKKBN dan IBI Pusat tentang revitalisasi program KB dan mendukung percepatan pencapaian mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera serta meningkatkan akses dan kualitas pelayanan KB, MKJP dan kesehatan reproduksi,” papar Fathonah.

Peningkatan kualitas pelayanan KB berkaitan erat dengan penurunan kematian itu. “Setiap ibu hamil memiliki risiko kematian. Apabila ikut KB, berarti terhindar dari kehamilan dan pada akhirnya terhindar dari terjadinya kematian saat melahirkan,” tandas Fathonah seraya menambahkan, “Bila semua ibu ikut program KB dan persalinan ditangani dengan baik, maka risiko kematian ibu saat melahirkan akan berkurang.”

Lebih jauh Fathonah menjelaskan, sepanjang 2012 ini BKKBN Jabar mengegendakan pelatihan bagi 1.500 tenaga penggerak desa atau kelurahan (TPD/TPK). Ada lagi orientasi teknik KIE dan konseling PKBR bagi pendidik sebaya, latihan dasar umum (LDU) bagi petugas lapangan KB (PLKB), refreshing bagi 372 PLKB dan PKB, dan pelatihan komunikasi interpersonal (KIP). Semua itu dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Tenaga medis juga menjadi perhatian utama BKKBN Jabar untuk menekan AKI. Sepanjang tahun ini, BKKBN akan memberikan pelatihan IUD dan implant bagi 707 bidan dan 511 dokter. Ada lagi pelatihan KIP bagi 1.152 bidan. Kemudian, pelatihan MOP dan MOW bagi dokter masing-masing 117 orang dan 118 orang.

“Kami berharap kerja keras kita dalam beberapa tahun terakhir membuahkan hasil terbaik. Indikator kualitas pelayanan maupun AKI akan kita ketahui bersama dengan melihat hasil Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) yang akan dilaksanakan tahun 2012 ini,” papar Fathonah.

 

***

 

Program KB dan bidan merupakan dua komponen penting dalam upaya menekan angka kematian ibu. Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat Netty Heryawan menilai keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. KB sangat penting karena di dalamnya mengatur kelahiran, sementara bidan merupakan pihak yang secara langsung berhubungan dengan ibu melahirkan.  

Karena itu, Netty meminta para bidan untuk terus meningkatkan pengetahuan, baik secara keilmuan maupun praktik. Penguasaan metode baru juga dibutuhkan mengingat perkembangan ilmu dan teknologi kian maju. “Bidan urusannya menyelamatkan ibu dan bayinya,” ujar Netty saat menghadiri pencanangan Bakti IBI Jawa Barat 2012 lalu.

Bagi Netty, bidan adalah salah satu profesi tertua di muka bumi. Seorang bidan menjalankan tugas membangun peradaban manusia. Bidanlah yang menyaksikan dan menangani awal mula peradaban manusia.”Sosialisasi mengenai pola pengasuhan, pendewasaan usia pernikahan, juga edukasi pilihan-pilihan kontrasepsi,” paparnya.

Di bagian lain, Netty menilai program KB berperan besar dalam pendewasaan usia perkawinan yang pada akhirnya mampu menekan kematian ibu. Sayangnya, upaya ini berbenturan dengan budaya nikah muda yang masih melekat di masyarakat.

“Para orang tua masih memiliki pola pikir yang salah terutama terhadap anak gadisnya. Daripada mereka dibiarkan tidak sekolah (karena tidak ada biaya) atau hanya diam di rumah, lebih baik dinikahkan saja,” Netty menyesalkan.

“Para orang tua hendaknya memiliki wawasan yang cukup luas mengenai bahaya yang terjadi jika anak melakukan pernikahan di usia dini. Seorang anak yang menikah usia dini berpengaruh terhadap kondisi biologisnya, karena anak usia dini reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan,” tambahnya.

Netty meminta pengelola program KB terus mendorong dan mengedukasi masyarakat untuk lebih memahami pendewasaan usia perkawinan. “Kita harus mampu melakukan edukasi tentang pilihan-pilihan penggunaan alat kontrasepsi. Keluarga prasejahtera atau keluarga sejahtera I punya pilihan aman untuk ber-KB, yakni kontrasepsi jangka panjang,” pungkas Netty.(ZDN/NJP

View more news »